Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Flash Back Agustus, Dibawa Kemana Bangsa Ini

Sepertinya sudah lama saya tidak menulis di blog ini, bukan karena tidak ingin, tetapi lebih dikarenakan tidak adanya kesempatan untuk menulis hal-hal serius (just a reason) yang disebabkan jadwal kerja yang semakin ketat oleh liputan lapangan.

Oleh karena banyaknya kesibukan tersebut, beberapa moment berharga yang terjadi di bulan ini, sempat terlewatkan oleh saya, untuk ditulis. Setidaknya saya melihat ada dua moment menarik mengenai informasi dalam negeri khususnya, yakni HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Isu Pertahanan dalam negeri.

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2008, bangsa Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 63 dalam kesederhanaan dan banyaknya himpitan masalah yang diderita bangsa ini.

Banyak komentar yang terlontar dari masyarakat mengenai HUT Kemerdekaan bangsa ini. Tetapi ada beberapa komentar yang sangat mengena dengan keadaan bangsa ini sekarang. “Apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka?”.

Pertanyaan itu sebenarnya adalah hal yang klasik, tetapi entah mengapa sangat mendalam artinya jika kita melihat pada realitas kenyataan yang ada.

Di Negara ini, warga negaranya masih sangat tergantung pada negara lain. Mulai dari peniti yang harus impor dari Cina, hingga politisi kita yang gemar menjilat kepada negara asing untuk mendapatkan keuntungaan sesaat.

Ketiadaannya sifat mandiri ini, membuat bangsa ini serasa begitu tergantung pada negara lain, seakan tidak bisa berdiri pada tumpuan kakinya.

Tekanan-tekanan datang silih berganti dengan bertubu-tubi, membuat bangsa yang hampir porak-poranda akibat krisis ekonomi ini menjadi sulit bangkit dari keterpurukan. Akibatnya, semua sisi kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik hingga pertahanan, negara ini bergantung pada luar negeri.

Khusus pada bidang pertahanan. Bangsa Indonesia khususnya TNI yang memegang peranan dibidang pertahanan dalam negeri, seakan hampir lumpuh karena ketiadaan peralatan militer yang mumpuni untuk negara sebesar Indonesia.

TNI tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menjaga bangsa ini dari ancaman militer dari luar maupun dalam negeri. Karena hampir seluruh peralatannya sudah berumur tua, tidak laik pakai dan banyak yang sudah di groundeed.

Celakanya, pengadaan senjata dari luar negeri sangat bergantung dengan besarnya alokasi dana yang dikucurkan oleh pemerintah kepada Departemen Pertahanan.

Menhan sendiri mengakui, dana yang dikucurkan oleh pemerintah untuk pengadaan senjata sangatlah minim, karena pemerintah lebih mementingkan alokasi dana pendidikan. Namun kecilnya dana tidak membuat TNI kecil hati, dalam kesahajaan mereka tetap mengabdi pada bangsa ini.

Kabar baik datang beberapa waktu lalu. TNI menerima beberapa persenjataan baru dari luar negeri, berupa sejumlah helikopter tempur jenis Mil Mi17 dan sejumlah tank amphibi dari Rusia, sebagai bagian dari perjanjian bilateral sebelumnya mengenai kredit ekspor senjata.

Kedatangan beberapa persenjataan baru ini, setidaknya akan membuat kekuatan TNI bertambah dan dapat menggantikan peralatan yang sudah tidak laik pakai karena termakan usia.

Tetapi, kedatangan persenjataan dari luar negeri itu juga mencerminkan, bagaimana bangsa ini begitu tergantung dengan produk militer asing. Padahal, bangsa ini memiliki potensi dibidang industri pertahanan.

Dengan jumlah alokasi dana untuk militer yang sangat kecil (kurang lebih hanya sebesar Rp 33 triliun), akan sangat menguntungkan jika kita mampu memproduksi sendiri atau membeli produk yang sudah ada bagi persenjataan TNI jika dibandingkan dengan membeli peralatan dari luar negeri yang mahal harganya.

Contoh, Pindad sudah mampu membuat panzer, PT. DI sudah mampu membuat helikopter angkut militer juga torpedo, dan lain sebagainya.

Lalu mengapa kita masih bergantung pada luar negeri? itulah politik para pengambil kebijakan negara ini. Mereka merasa produk luar lebih berkualitas, dan jika mereka membeli persenjataan dari dalam negeri, mereka tidak akan mendapatkan fee dari kontrak tersebut.

Selain itu juga, beberapa negara tetangga tidak menginginkan Indonesia menjadi kuat dan mandiri dalam bidang pertahanan, karena akan membahayakan mereka. Sedangkan mereka malah memperkuat persenjataan mereka sendiri.

Tapi, terlepas dari semua permasalahan di atas. Bangsa ini masih menyimpan potensi, baik potensi sumber daya alam maupun potenis sumber daya manusia yang mumpuni untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mandiri.

Walaupun dengan kesahajaan, kita sebagai warga negara dan khususnya generasi penerus bangsa ini. Sudah seharusnya bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini dan menjadi tugas kita kedepanlah untuk memakmurkan bangsa ini.

Advertisements

August 27, 2008 Posted by | Politik | | 2 Comments

Kampanye 9 Bulan : Parpol Mengandung Pemilu

Senin 14 Juli 2008 kemarin gong kampanye pemilu 2009 dimulai. Kampanye pemilu 2009 ini akan diikuti oleh banyak Partai politik yang berjumlah hingga 33 buah dan masa kampanye panjang hingga 9 bulan, sama dengan waktu seorang ibu yang sedang hamil.

Kesempatan pendaftaran parpol peserta pemilu 2009 yang berakibat membludaknya parpol perserta, juga dimanfaatkan oleh para parpol muka lama yang pada 2004 kemarin tidak lulus verifikasi dan gagal.

Banyaknya parpol perserta pemilu yang mencapai 33 buah, menggambarkan bahwa para elit politik begitu bernafsu dalam mengincar kursi kekuasaan di negeri ini. Namun di sisi lain banyaknya parpol juga menggambarkan betapa rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap parpol yang telah ada sekarang.

Rakyat sudah tidak percaya kepada parlemen yang penuh dengan nafsu dan intrik politik, rakyat juga sudah lelah dengan permainan pemerintah yang berpihak pada kalangan borjuis bukan pada mereka yang terlupa.

Selain itu, jangka waktu kampanye yang mencapai 9 bulan menggambarkan bagaimana parpol dan politikus kita begitu bernafsu untuk menarik perhatian masyarakat, guna mengumpulkan suara pada pemilu 2009 nanti.

Panjangnya jangka waktu kampanye merupakan hasil dari kesepakatan-kesapakatan politik parpol. Selama kampanye itu, parpol akan mencari kader-kader baru dan para politikus akan mengobral janji-janji kampanye mereka.

Dari segi keuangan, jangka waktu kampanye yang mencapai 9 bulan akan menyedot dana hingga mencapai trilyunan Rupiah, baik dari pemerintah maupun parpol peserta pemilu.

Alangkah baiknya jika jumlah uang yang sebegitu banyaknya digunakan dalam program-program konkrit yang bersentuhan langsung dengan rakyat yang kelaparan ini. Bukan dihambur hamburkan hanya untuk mengumbar omong kosong para politikus busuk.

Bangsa ini tidaklah bodoh, rakyat bangsa ini tidak lagi seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh petani agar menuruti kemananpun sang petani menginginkannya layaknya masa orde baru.

Rakyat negeri ini sudah bosan akan janji-janji palsu dari para politikus busuk dan parpol yang ada di negeri ini. Masyarakat sudah bosan dengan omong kosong pemerintah yang berkuasa tanpa melihat rakyat yang lapar akan ketenangan.

Sudah sepantasnya, pemerintah berperilaku layaknya penguasa yang adil, selayaknya lah parpol dan politikikus memikirkan nasib rakyat yang kelaparan karena ulah mereka, mementingkan kepentingan politik segelintir orang, dengan mengorbangkan rakyat banyak.

Sepantasnyalah jika parpol, elit politik dan pemerintah mawas diri dengan lebih memperhatikan rakyatnya. Bukan hanya memperhatikan dan memperjuangkan kekuasaan mereka di 2009.

Kampanye bukanlah seorang ibu yang sedang mengandung anaknya selama 9 bulan. Karena di dalam dunia politik terlalu banyak permainan yang tidak menyenangkan dan merusak bangsa.

Seorang ibu yang mengandung hanya mengharapkan satu hal saja, yakni anaknya lahir dengan sehat sempurna, dengan harapan anaknya akan tumbuh besar menjadi pelita pembawa cahaya kebenaran.

Seorang ibu akan membesarkan anaknya denga tulus, tanpa mengharapkan jasanya akan dibalas oleh anaknya. Tidak seperti politik yang akan selalu ada “balas jasa”.

Pemilu adalah pesta rakyat Indonesia yang paling besar di negara ini. Jadi janganlah dikotori oleh tangan-tangan kotor politikus busuk yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya saja.

July 18, 2008 Posted by | Politik, Uncategorized | | 4 Comments