Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Yogya Menangis

Tidak terasa sudah lewat beberapa hari semenjak Merapi meledak menumpahkan isi buminya, sehingga membuat daerahnya panik, tertutup debu dan awan panas, dan korban berjatuhan. Hingga saat ini, sudah banyak korban berjatuhan, baik dari kalangan sipil yang diselamatkan, maupun TNI/Polri yang bertugas sebagai relawan, dan juga relawan dari berbagai kalangan.

Semenjak hari itu juga, banyak kabar saya terima dari situs  http://merapi.combine.or.id/, tentang perkembangan Gunung Merapi, proses evakuasi, kondisi pengungsi, hingga kebutuhan-kebutuhan pengungsi di posko-posko pengungsian yang mendadak serentak dibuka di seluruh Yogya, tanpa mengenal ras, suku, agama, latar belakang, semuanya bergabung hanya untuk mereka korban merapi disaat waktu masih menunjukan tengah malam, dimana pejabat kita masih tertidur dengan lelap. Semenjak hari itu juga saya banyak melihat foto-foto dari berbagai media atau kawan yang bertugas menjadi relawan disana.

Setiap kali melihat foto-foto terbaru yang datang, ada satu hal selalu saya rasakan. Foto-foto itu sangat bagus, sangat artisitik, sangat hidup, sangat menyentuh hingga setiap kali melihatnya terasa sangat menyakitkan. Bagaimana TNI yang sedang berhadapan dengan KONTRAS mengenai masalah HAM yang selalu dituntut LSM satu ini, berjibaku bersama relawan untuk menyelamatkan warga yang terjebak di daerah yang masuk lingkaran berbahaya.

Belum lagi ada cerita-cerita yang mengharukan bagaimana anggota TNI dan relawan dengan tegar berkorban demi warga, untuk tetap di lokasi ketika ancaman tiba dan tetap mendahulukan warga yang panik menyelamatkan dirinya, padahal mereka punya kesempatan untuk lari, tidak akan ada yang menyalahkan mereka, karena mereka juga manusia.

Foto-foto itu semakin terasa menyakitkan ketika terdengar kabar bahwa banyak media, khususnya media televisi yang memberitakan keadaan secara berlebihan, tanpa disertai data pasti dan tidak empati pada pengungsi yang sedang panik. Mereka (media di awal kejadian) hanya melaporkan situasi Yogyakarta, kepanikan dan korban, tanpa mengindahkan kondisi dan kebutuhan pengungsi yang tergeletak lemah di berbagai posko pengungsian. Padahal media ini adalah media paling cepat yang mampu mencapai kekuasaan di Jakarta. Sialnya, respon pemerintah terlihat lambat.

Melihat foto-foto itu bukan hanya membuat hati saya sakit, tetapi juga marah. Marah karena saya tidak bisa berbuat apa-apa, diam disini, di ibu kota, terpaku dengan rutinitas tak berarti, merasa tidak berguna sama sekali melihat saudara kita di Yogya seperti itu. Memberikan sumbangan berupa uang dan pakaian atau makanan, seakan tidak menghapuskan rasa sakit saya ketika melihat foto-foto itu.

Amarah itu semakin menjadi ketika saya melewati daerah Kemang. disitu banyak sekali mereka yang berdandan glamor, sexy dan wangi hanya untuk “bersosial” menghabiskan uangnya di club-club hanya sekedar mencari kesenangan, minuman dan khayalan. Di dalam hati saya mengumpat para cecunguk budak hedonisme itu, “kemana hati kalian ketika saudara kalian terkena panasnya abu vulkanik merapi?”. Mereka muda, mereka mampu, kenapa hanya sepeser uang yang mereka sumbangkan, mereka mampu lebih dari itu untuk membeli sebuah kenyamanan yang tidak pernah terbayangkan para pengungsi di yogya.

Saya marah, saya ingin ke yogya walau itu berbahaya dan beresiko hilangnya nyawa yang hanya satu. Saya ingin pergi ke yogya  menjadi relawan, jika tidak diizinkan biarkan lah saya kesana walau hanya mengambil secarik foto untuk disebarkan ke dunia, bagaimana menyakitkannya derita pengungsi merapi, dan menceritakan kebenaran tanpa melebihkannya.

Tapi saya lemah, walau hasrat dan hati ingin pergi, seakan ada kekuatan lain yang menghalangi, tapi saya tidak berdaya melawan,  sehingga sering kali air mata ini menetes setiap kali melihat foto-foto itu. saya cuma bisa berdoa, semoga saudara-saudara ku disana diberikan perlindungan, dan semua personel TN/Polri serta relawan yang bertugas diberikan kekuatan dan keselamatan ketika menjalankan tugasnya.

*Semua foto diatas saya ambil dari http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/mount_merapis_eruptions.html. Hak Cipta ada ada mereka.

Advertisements

November 9, 2010 Posted by | Curhatan Hati | Leave a comment

Dosa dan Akhir Hayat

KEmarin sore, aku terima berita dari kampus, katanya hari ini (rabu) pelajaran diliburkam karena  dosen ku  harus menghadiri pemakaman. Tidak disangka, pemakaman itu adalah pemakaman suaminya, padahal hari senin yang lalu kami masih bercanda, bahkan dia masih sempat bercanda mengenai suaminya yang jahil.

Akhirnya setelah aku konfirmasi berita pada dosen lainnya, aku putuskan untuk melayat ke rumah dosen ku seok harinya dan mengajak teman-teman yang lain untuk ikut melayat.

Setelah janjian di kampus dan mencari tahu alamat dosen ku, kita menghubungi beliau, ternyata jenazah sudah diberangkatkan ke pemakaman dan kita menyusul ke pemakaman di daerah karet.

Setelah sampai pemakaman, kita tanya san tanya sini untuk mencari dimana acara pemakamannya berlangsung, dan akhirnya kita mendapat kepastian letak pemakamannya.

Seperti biasa, acara pemakaman diwarnai dengan isak tangis keluarga yang ditinggalkan, termasuk dosen ku yang sepertinya shok sekali menghadapi kematian suaminya yang mendadak.

Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan acara pemakaman. Bukan karena dipenuhi isak tangis, tapi acara seperti ini selalu membuatku berpikir tentang perasaan kehilangan atas orang yang dicintai.

Bukan itu saja, setiap kali datang ke pemakaman, perasaan ini jadi ingat sama ateman-temanku yang sudah meninggal dan perasaan bagaimana jika aku meninggal nanti? apakah ada yang datang dipemakamanku? dan apakah “dia” akan sedih jia aku meninggal?

Selain itu, aku selalu terbayang semua perbuatanku di masa lalu jika datang ke pemakaman seseorang. Aku merasa belum siap jika harus dipanggil yang kuasa, karena aku merasa masih banyak dosa yang harus ku tebus di kehidupan ini, Karena itu, jika berada di pemakaman, aku selalu ingin menangis atau hanya sekedar meneteskan air mata mengingat itu semua.

Tetapi, kehidupan di dunia ini pasti akan berakhir dan kita sebagai seorang hamba akan kembali padanya.

June 4, 2008 Posted by | Curhatan Hati | 3 Comments

Untukmu Cinta dan Sahabatku

Kalau saja aku bisa merengkuh semuanya

Aku akan merengkuh hatimu untukku

Walau itu berarti harus mengorbankan perasaan ini

Walau untuk itu aku harus hilang dari muka bumi ini

Kalau saja aku mempunyai waktu

Aku akan terus berjuang demi hatimu

Aku akan berjuang mendapatkan hatimu untukku

Walau aku harus bertaruh pada diri ini

Tapi aku tak bisa

Aku tak bisa memiliki semuanya

Aku tak bisa memiliki hati dan waktu mu bersamaan

Karena aku tak bisa menjangkaumu

Sekarang, biarlah aku yang berkorban

Merelakan dirimu menempuh kebahaagiaan

Biarlah aku melihat senyum kebahagiaanmu

Walau untuk itu aku hanya bisa melihatnya dari jauh

Ku ucapkan selamat kepadamu

Yang telah menemukan kebahagiaan

Doaku selalu bersamamu wahai sahabat

Tempuhlah apa yang menjadi pilihanmu

May 31, 2008 Posted by | Curhatan Hati | | Leave a comment