Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Hercy Kembali Menghujam Bumi Pertiwi

Pagi ini seperti pagi di hari biasanya, cuaca terlihat cerah dengan udaranya yang masih segar, bebas dari polusi asap knalpot kendaraan bermotor. Tetapi ketika melihat televisi dan membuka internet, ada yang beda, berbagai media tidak seperti biasanya memberitakan informasi tdai malam, tetapi terfokus pada satu berita, yaitu Hercules TNI AU jatuh lagi di Magetan, Jawa Timur.

Ini artinya sudah tiga insiden yang melibatkan pesawat TNI AU dalam dua bulan terakhir. Pertama insiden jatuhnya pesawat Fokker F27 di Lanud Hussein Sastranegara, Bandung dan memakan korban belasan personel Paskhas AU.

Kedua insiden lepasnya roda pendarat pesawat C-130 Hercules TNI AU di Papua, tetapi insiden ini tidak memakan korban jiwa, hanya kerusakan pada pesawat.

Dan kali ini Hercy kembali kembali rontok dan memakan korban kurang leboih 98 orang, baik dari pihak TNI maupun sipil tertabrak badan pesawat.

Semua pihak bertanya, mengapa pesawat TNI selalu jatuh? jawabannya mudah tapi susah untuk diungkap, karena terlalu bersifat politis dan akan menguak semua kebobrokan bangsa ini, khususnya perhatian pemerintah kepada TNI.

Berbagai pihak menganggap banyaknya kejadian jatuhnya pesawat TNI dikarenakan TNI kekurangan anggaran untuk membeli pesawat baru, sehingga masih mengandalkan pesawat-pesawat tua yang sebenarnya sudah harus di grounded (pensiun). Namun pihak pemerintah selalu menyangkal hal tersebut dengan mengatakan bahwa anggaran TNI cukup dan semua pesawat TNI masih laik terbang, kini apa buktinya? Pesawat kita rontok dimana-mana. Yang disalahkan hanya faktor alam seperti cuaca atau huma error tanpa melihat fakta umur pesawat.

Kenyataannya lebih dari setengah peralatan TNI, baik AD, AU dan AL adalah peralatan yang berusia lebih dari 40 tahun dan harus sudah diganti oleh peralatan baru.

Khusus untuk pesawat C-130 Hercules, TNI sudah mengoperasikan pesawat jenis ini semenjak tahun 60-an untuk varian A dan B, artinya sudah lebih dari 45 tahun pesawat ini mengabdi pada bangsa ini.

Padahal di negara asalnya, AS sana, varian A, B dan H yang dimiliki oleh TNI sudah tidak dipergunakan lagi, diganti dengan varian J. Tetap pemerintah masih berkelit dengan alasan, suku cadangnya masih dijual dan masih bisa diretrofit (upgrade teknologi) ke tipe terbaru, seperti yang dilakukan pada empat C-130 A dan B milik TNI AU yang dikirim ke Singapura untuk peremajaan.

Ironisnya, ketika banyak pemerhati pertahanan mengatakan TNI sudah harus mendapatkan peralatan baru untuk mengganti peralatan lamanya, Menhan Yuono Sudarsono baru akan berencana untuk membeli empat Hercules baru dari AS, itupun dengan catatan, kalau AS mau memberikan harga murah.

Timbul pertanyaan, mengapa baru sekarang? mengapa hanya empat? dan mengapa harus dari AS?

Mungkin pemerintah baru terbuka mata dan telinganya, kalau TNI butuh peralatan baru. Tapi mengapa hanya empat, padahal TNI butuh lebih dari itu. Pemerintah berkilah tidak punya uang. Kalau tidak punya uang, kenapa tidak beli yang lebih murah dari negara lain atau membeli produk dalam negeri, CN235 yang harganya jauh lebih murah.

Dan kenapa harus dari AS? Apakah pemerintah tidak ingat sama sekali embargo yang dilakukan oleh negeri adikuasa itu. Mengapa kita tidak membeli dari negara lain seperti Rusia yang menawarkan pesawat angkut IL-76 yang lebih murah dan diberi kesempatan untuk mengembangkan pesawat itu di dalam negeri.

Pemerintah dan DPR pura-pura buta dan tuli jika ditanya masalah seperti itu. Mereka hanya bicara, memberikan kritik pedas, tapi lupa untuk memberikan tindakan nyata.

Anggota dewan berteriak berikan TNI peralatan terbaik, tapi mereka selalu memojokan TNI dalam situasi yang tidak menyenangkan, bahkan untuk membuat sebuah Buku Putih Pertahanan 2008 saja memerlukan waktu yang sangat lama, sehingga timbul pertanyaan, APAKAH ANGGOTA DEWAN MENGERTI KONSEP DAN GRAND STRATEGI PERTAHANAN NASIONAL?

Pemerintah juga harusnya bertanggungjawab, mereka seakan-akan melupakan TNI dengan memotong anggaran pertahanan 2009, padahal anggaran yang diajukan adalah anggaran minimal yang harus dipenuhi. kembali timbul pertanyaan, APAKAH PEMERINTAH MENGERTI MASALAH PERTAHANAN DAN MEMILIKI GRAND STRATEGI PERTAHANAN NASIONAL?

Jika pemerintah dan DPR tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut, apakah mereka pantas menduduki kursi kekuasaan? Tetapi, jika mereka tahu jawaban dari pertanyaan tersebut tetapi tidak menjalankannya, maka mereka telah menghianati bangsa ini.

Para prajurit TNI yang gugur baik di medan perang maupun karena kecelakaan, telah disumpah untuk selalu setia pada negara, menjaga jutuhan NKRI walau dalam kondisi sesulit apapun. Dalam kesahajaan seperti keadaan sekarang ini, mereka terus mencoba bertahan dengan keadaan seadanya, berusaha menjaga tanggung jawab yang dibebankan pada pundak mereka.

Personel TNI dilatih untuk mati dalam membela kedaulatan bangsa ini dari ancaman yang mengancam keutuhan NKRI, bukan dilatih untuk mati konyol karena melaksanakan “misi bunuh diri” akibat kecelakaan pesawat yang sebenarnya bisa dihindari.

Pemerintah seharusnya malu memperlakukan para penjaga bangsa ini dengan perlakuan yang serba minimalis.

Semoga personel TNI dan orang-orang yang menjadi korban jatuhnya pesawat Hercules di Magetan di terima di sisi-Nya.

Sumpahmu untuk selalu menjaga bangsa ini akan terus tersimpan di dalam hati setiap prajurit dan orang-orang yang peduli akan nasib bangsa ini.

Selamat Jalan Prajurit….

Advertisements

May 21, 2009 - Posted by | Militer

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: