Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Persamaan Gender dan Kewajiban Seorang Ibu

Jepara, 21 April 1879. Seorang bayi perempuan lahir dengan tangis ke dunia. Bayi itu bernama Raden Ajeng Kartini (RA. Kartini). Kini tanggal itu menjadi hari diperingati sebagai hari Kartini, hari kebangkitan wanita Indonesia.

Siapa tak mengenal dirinya, seorang sosok wanita pejuang yang mencoba membebaskan wanita Indonesia dari kungkungan adat feodalisme yang tak memihak pada kaumnya.

Walau berasal dari kaum priyayi, tidak membuatnya lepas dari adat istiadat yang merugikan kaum wanita dalam menempuh kesempatan mengecap pendidikan pada saat itu.

Kini setelah 130 tahun dari peristiwa kelahiran sang bayi, kebebasan untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan, mendapatkan pekerjaan dan menjadi pemimpin telah didapat. Peluang menjadi seorang wanita mandiri terbuka lebar seluasnya.

Namun ketika kesempatan itu telah didapatkan, mengapa masih ada persoalan buang anak, pembunuhan anak, aborsi, dan anak penjualan anak oleh sang ibu dan anak kurang mendapat perhatian dari sang ibu.

Ketika kaum feminis sibuk berteriak tentang persamaan hak di segala bidang bagi wanita tanpa melihat kodrat wanita sesungguhnya, kasus seperti pembuangan bayi oleh sang ibu, aborsi dan anak dijual oleh ibunya berserakan dimana-mana, bahkan angkanya mencapai jutaan, jumlah yang fantastis.

Misalnya saja kasus pembuangan bayi oleh sang ibu. Untuk Februari 2009 saja, tercatat ada tujuh kasus pembuangan bayi oleh sang ibu ketika bayi masih merah alias baru lahir. Diduga, bayi-bayi itu adalah hasil hubungan gelap dan keberadaannya tidak diinginkan oleh orang tuannya.

Lalu masih ada kasus aborsi. Menurut catatan statistik aborsi 2008 yang dibuat oleh Bidang Keluarga Berencana Nasional (BKBN), setidaknya ada sekitar 2,6 juta kasus aborsi yang dilakukan oleh wanita Indonesia. Artinya ada 2,6 juta nyawa tak berdosa yang melayang hanya dari aborsi saja.

Menurut Agus Wilopo, Ketua Minat Kesehatan Ibu dan Anak/Reproduksi Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), dari 2,6 juta aborsi yang dilakukan, 700 ribu di antaranya dilakukan oleh wanita berumur di bawah 20 tahun. Ia juga berpendapat, 11, 13 persen dari total kasus aborsi di Indonesia dilakukan karena kehamilan yang tak diinginkan.

Walau angka 2,6 juta itu bukanlah angka pasti, karena kasus aborsi banyak yang tidak dilaporkan, namun itu sudah cukup untuk menggambarkan banyaknya kasus aborsi yang dilakukan para manusia tak bertanggung jawab.

Belum lagi kasus anak yang dijual oleh ibunya, baik dijual kepada orang lain yang memang menginginkan anak atau dijual sebagai pelacur. Kebanyakan motif dari para pelaku penjualan anak, adalah karena himpitan ekonomi, sehingga mereka melihat hanya dengan jalan seperti itulah, mereka dapa mengatasi masalah tersebut.

Ditambah lagi dengan banyaknya permasalahan kurang perhatian orang tua, terutama ibu kepada anak-anaknya karena sang ibu sibuk dengan kegiatannya sebagai wanita karir, sehingga anak-anak dirumah di didik oleh pembantu dan baby sitter, dan ketika dewasa, mereka menjadi bebas tanpa perhatian dari orang tua dan keluarga pun terbengkalai.

Permasalahan di atas, hanyalah sebagian permasalahan yang sedang dihadapi oleh wanita Indonesia. Masih banyak kasus yang melibatkan anak dan wanita, seperti ibu yang membunuh anaknya sendiri, seperti kasus ibu yang membunuh anaknya di Bandung akibat takut tak bisa memberi nafkah, atau ibu yang menjadi germo bagi anak-anak di bawah umur.

Berbagai permasalahan yang disebutkan sebelumnya, menggambarkan bagaimana masih banyak wanita yang tak bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Jika ia tidak bisa mempertangungjawabkan perbuatannya sendiri, bagaimana ia bertanggungjawab pada keluarganya nanti?

Kemana rasa kasih sayang seorang ibu yang nota bene adalah wanita? Padahal, ada pepatah, setega-teganya seorang ibu, ia tidak akan mengorbankan anaknya.

Ibu lah yang memberikan pelajaran tentang kelembutan hati bagi anaknya walau itu hanya dari masakan dan belaiannya, karena itu, kasih sayang seorang ibu berbeda dengan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, dan hal itu tidak pernah tergantikan.

Ketika banyak kasus yang melibatkan wanita dan anak menjadi korbannya, apakah pantas para kaum feminis berteriak menuntut persamaan hak bagi wanita di segala bidang?

Jangan hanya melihat dari sudut persamaan hak saja, hingga lupa ada yang namanya kodrat yang tidak bisa diingkari oleh manusia, bahwa wanita adalah wanita bukan pria, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang berbeda.

Hak memang patut diperjuangkan, tetapi ketika kewajiban sudah terlaksana dengan baik.

Menempuh pendidikan setinggi-tingginya, meniti karir dan menjadi wanita mandiri adalah hak wanita. Namun jangan dilupakan masalah kodrat. Karena secara esensi, pria dan wanita memang berbeda. Berbeda dalam hal awal penciptaan, berbeda secara fisik, berbeda dalam pola berpikir dan berbeda fungsi dalam keluarga.

Menuntut persamaan hak layaknya seorang pria, tanpa perbedaan setitik pun dan menjadi dominan, apakah bisa? Kartini pun sadar akan hal tersebut, ini terlihat ketika ia menikah dan menyadari ada kelebihan bagi wanita ketika berkeluarga (menikah).

Tidak ada yang lebih dominan di antara pria dan wanita, keduanya saling melengkapi, karena satu sama lain saling membutuhkan untuk mengisi ruang kosong di diri masing-masing.

Wanita memiliki kenikmatan yang tak ada dalam diriĀ  pria manapun di muka bumi ini, mengandung. Merasakan ada satu mahluk yang tumbuh di dalam tubuh dan menjadlin ikatan emosi dengan sang bayi semenjak janin hingga ujung waktu.

Jadi mengapa harus merasa kurang dan menuntut hal yang sama persis dengan pria ketika diciptakan sebagai wanita, karena menjadi wanita bukanlah sebuah kekurangan, tetapi sebuah anugerah luar biasa yang tidak bisa dirasakan oleh kaum pria.

Selamat Hari Kartini wanita-wanita Indonesia, jadilah wanita mandiri tanpa melupakan kewajiban mu sebagai wanita seutuhnya.


Advertisements

April 21, 2009 Posted by | Uncategorized | 8 Comments

Doel dan Realitas Kehidupan Kita

Ah…. Rasanya sudah lama tidak menulis di blog ini. Penyebabnya bukan karena malas, tetapi karena beberapa bulan belakangan begitu banyak cobaan yang menimpa, sehingga sukar untuk menumbuhkan semangat menulis, walau pun banyak ide untuk ditulis di kepala ini.

Beberapa minggu ini, kebiasaan saya sedikit berubah. Kalau dahulu, setiap pagi selalu menghidupkan radio dan mendengarkan musik serta berita-berita yang dibacakan oleh penyiar. Kali ini hal itu terganti dengan menonton berita pagi di tv, sekaligus sinetron pagi.

Ya, sinetron, tapi bukan sinetron yang banyak ditayangkan oleh berbagai tv swasta kita sekarang yang tidak mempunyai alur cerita tidak jelas, hedonisme, tidak bermutu dan tidak mendidik. Melainkan sebuah sinetron lawas yang terkenal pada era 90-an, “Si Doel Anak Sekolahan” yang tayang disebuah stasiun tv swasta tertua di Indonesia.

Kenapa harus menonton sinetron lawas itu, karena kalau melihat sinetron itu, saya selalu teringat dengan masa- kecil dulu di desa, masa-masa kuliah dan masa-masa pasca kelulusan dan mencari kerja.

Selain itu, “Si Doel” menjadi obat kerinduan saya terhadap keinginan melihat sebuah tayangan televisi yang merakyat, tidak dibuat-dibuat, sekaligus mendidik, tidak seperti yang disuguhi sekarang ini.

Melihat “Si Doel” juga membuat saya teringat bagaimana realita sosial kita sudah jauh dari budaya timur yang menjunjung kesopanan serta ada istiadat adi luhung, tergantikan dengan budaya barat dan hedonisme yang menjangkiti generasi muda bangsa ini.

“Si Doel” menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan karena pembangunan namun tetap berusaha untuk maju dengan usahanya sendiri.

Bagaimana si Doel mencari kerja tanpa lelah tanpa menggunakan jalur-jalur “khusus” seperti yang digunakan banyak anak-anak sekarang, Nyak yang tetap setia pada Babe yang telah meninggal, tidak seperti kebanyakan “wanita paruh baya” sekarang yang gemar akan daun muda.

Masih ada Sarah yang tidak menilai seseorang karena harta, tetapi lebih kepada ketulusan dan kesederhanaan kehidupan keluarga Sabeni yang apa adanya dan menjadi diri sendiri.

Tanpa kita sadari, kehidupan keluarga si Doel adalah sebuah cerminan hidup yang hampir musnah di masyarakat bangsa ini, nilai-nilai itu telah terlindas roda zaman yang tak peduli berputar.

Sifat sederhana telah digantikan dengan sikap hedonisme yang mengutamakan benda berkilau, dan ketulusan telah terganti dengan materialisme.

Tetapi entah mengapa, banyak di antara kita yang justru bangga akan sikap itu, dan tak lagi peduli dengan orang di dekatnya yang membutuhkan uluran tangan.

Realita kehidupan kita memperlihatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si miskin dan si kaya, tanpa ada jembatan yang dapat menghubungkan dua sisi yang ibarat langit dan bumi.

Yah… itulah hidup, selalu penuh warna dan misteri yang tak terungkap oleh dangkalnya pemikiran manusia yang angkuh.

April 20, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a comment