Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Marhaban Ya Ramadhan

Tidak terasa sudah satu tahun kita lewati dari bulan ramadhan sebelumnya. Hanya dalam hitungan jam, kita akan berjumpa lagi dengan bulan ramadhan 1429 Hijriyah, bulan yang suci dan penuh rahmat. Dimana setan dan godaan, dibelenggu dalam penjara neraka selama satu bulan penuh.

Dibulan ini, semua umat manusia, khususnya umat muslim dunia akan menahan semua nafsunya, baik itu lapar, haus dan emosi yang ada di hati, seraya terus berdoa kepada sang maha pencipta Allah SWT.

Harapan selalu ada dalam diri manusia, dengan datangnya bulan yang suci ini, kita semua berharap akan menjadi manusia yang lebih baik setelahnya. Sebuah manusia yang terhindar dari godaan-godaan setan yang menjerat manusia dengan kenikmatan sesaat.

Bagi bangsa Indonesia, kita berharap dengan datangnya bulan ramadhan. Penduduk bangsa ini akan mengitrospeksi ke dalam diri masing-masing. Memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat dengan berpuasa sebulan penuh. Karena hakikat puasa adalah menjauhkan diri dari semua hawa nafsu setan.

Pada akhirnya, atas perbuatan yang terjadi serta kata-kata kasar yang telah terucap.  Mari kita sambut bulan ramadhan yang penuh berkah ini dengan mengucap maaf, minal adizin wal faidzin.

Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1429 Hijriah

Advertisements

August 31, 2008 Posted by | Nafsu | | Leave a comment

Flash Back Agustus, Dibawa Kemana Bangsa Ini

Sepertinya sudah lama saya tidak menulis di blog ini, bukan karena tidak ingin, tetapi lebih dikarenakan tidak adanya kesempatan untuk menulis hal-hal serius (just a reason) yang disebabkan jadwal kerja yang semakin ketat oleh liputan lapangan.

Oleh karena banyaknya kesibukan tersebut, beberapa moment berharga yang terjadi di bulan ini, sempat terlewatkan oleh saya, untuk ditulis. Setidaknya saya melihat ada dua moment menarik mengenai informasi dalam negeri khususnya, yakni HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Isu Pertahanan dalam negeri.

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2008, bangsa Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 63 dalam kesederhanaan dan banyaknya himpitan masalah yang diderita bangsa ini.

Banyak komentar yang terlontar dari masyarakat mengenai HUT Kemerdekaan bangsa ini. Tetapi ada beberapa komentar yang sangat mengena dengan keadaan bangsa ini sekarang. “Apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka?”.

Pertanyaan itu sebenarnya adalah hal yang klasik, tetapi entah mengapa sangat mendalam artinya jika kita melihat pada realitas kenyataan yang ada.

Di Negara ini, warga negaranya masih sangat tergantung pada negara lain. Mulai dari peniti yang harus impor dari Cina, hingga politisi kita yang gemar menjilat kepada negara asing untuk mendapatkan keuntungaan sesaat.

Ketiadaannya sifat mandiri ini, membuat bangsa ini serasa begitu tergantung pada negara lain, seakan tidak bisa berdiri pada tumpuan kakinya.

Tekanan-tekanan datang silih berganti dengan bertubu-tubi, membuat bangsa yang hampir porak-poranda akibat krisis ekonomi ini menjadi sulit bangkit dari keterpurukan. Akibatnya, semua sisi kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik hingga pertahanan, negara ini bergantung pada luar negeri.

Khusus pada bidang pertahanan. Bangsa Indonesia khususnya TNI yang memegang peranan dibidang pertahanan dalam negeri, seakan hampir lumpuh karena ketiadaan peralatan militer yang mumpuni untuk negara sebesar Indonesia.

TNI tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menjaga bangsa ini dari ancaman militer dari luar maupun dalam negeri. Karena hampir seluruh peralatannya sudah berumur tua, tidak laik pakai dan banyak yang sudah di groundeed.

Celakanya, pengadaan senjata dari luar negeri sangat bergantung dengan besarnya alokasi dana yang dikucurkan oleh pemerintah kepada Departemen Pertahanan.

Menhan sendiri mengakui, dana yang dikucurkan oleh pemerintah untuk pengadaan senjata sangatlah minim, karena pemerintah lebih mementingkan alokasi dana pendidikan. Namun kecilnya dana tidak membuat TNI kecil hati, dalam kesahajaan mereka tetap mengabdi pada bangsa ini.

Kabar baik datang beberapa waktu lalu. TNI menerima beberapa persenjataan baru dari luar negeri, berupa sejumlah helikopter tempur jenis Mil Mi17 dan sejumlah tank amphibi dari Rusia, sebagai bagian dari perjanjian bilateral sebelumnya mengenai kredit ekspor senjata.

Kedatangan beberapa persenjataan baru ini, setidaknya akan membuat kekuatan TNI bertambah dan dapat menggantikan peralatan yang sudah tidak laik pakai karena termakan usia.

Tetapi, kedatangan persenjataan dari luar negeri itu juga mencerminkan, bagaimana bangsa ini begitu tergantung dengan produk militer asing. Padahal, bangsa ini memiliki potensi dibidang industri pertahanan.

Dengan jumlah alokasi dana untuk militer yang sangat kecil (kurang lebih hanya sebesar Rp 33 triliun), akan sangat menguntungkan jika kita mampu memproduksi sendiri atau membeli produk yang sudah ada bagi persenjataan TNI jika dibandingkan dengan membeli peralatan dari luar negeri yang mahal harganya.

Contoh, Pindad sudah mampu membuat panzer, PT. DI sudah mampu membuat helikopter angkut militer juga torpedo, dan lain sebagainya.

Lalu mengapa kita masih bergantung pada luar negeri? itulah politik para pengambil kebijakan negara ini. Mereka merasa produk luar lebih berkualitas, dan jika mereka membeli persenjataan dari dalam negeri, mereka tidak akan mendapatkan fee dari kontrak tersebut.

Selain itu juga, beberapa negara tetangga tidak menginginkan Indonesia menjadi kuat dan mandiri dalam bidang pertahanan, karena akan membahayakan mereka. Sedangkan mereka malah memperkuat persenjataan mereka sendiri.

Tapi, terlepas dari semua permasalahan di atas. Bangsa ini masih menyimpan potensi, baik potensi sumber daya alam maupun potenis sumber daya manusia yang mumpuni untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan mandiri.

Walaupun dengan kesahajaan, kita sebagai warga negara dan khususnya generasi penerus bangsa ini. Sudah seharusnya bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini dan menjadi tugas kita kedepanlah untuk memakmurkan bangsa ini.

August 27, 2008 Posted by | Politik | | 2 Comments