Catetan Seorang Wartawan Stres…!!!

Sekedar curhatan

Yogya Menangis

Tidak terasa sudah lewat beberapa hari semenjak Merapi meledak menumpahkan isi buminya, sehingga membuat daerahnya panik, tertutup debu dan awan panas, dan korban berjatuhan. Hingga saat ini, sudah banyak korban berjatuhan, baik dari kalangan sipil yang diselamatkan, maupun TNI/Polri yang bertugas sebagai relawan, dan juga relawan dari berbagai kalangan.

Semenjak hari itu juga, banyak kabar saya terima dari situs  http://merapi.combine.or.id/, tentang perkembangan Gunung Merapi, proses evakuasi, kondisi pengungsi, hingga kebutuhan-kebutuhan pengungsi di posko-posko pengungsian yang mendadak serentak dibuka di seluruh Yogya, tanpa mengenal ras, suku, agama, latar belakang, semuanya bergabung hanya untuk mereka korban merapi disaat waktu masih menunjukan tengah malam, dimana pejabat kita masih tertidur dengan lelap. Semenjak hari itu juga saya banyak melihat foto-foto dari berbagai media atau kawan yang bertugas menjadi relawan disana.

Setiap kali melihat foto-foto terbaru yang datang, ada satu hal selalu saya rasakan. Foto-foto itu sangat bagus, sangat artisitik, sangat hidup, sangat menyentuh hingga setiap kali melihatnya terasa sangat menyakitkan. Bagaimana TNI yang sedang berhadapan dengan KONTRAS mengenai masalah HAM yang selalu dituntut LSM satu ini, berjibaku bersama relawan untuk menyelamatkan warga yang terjebak di daerah yang masuk lingkaran berbahaya.

Belum lagi ada cerita-cerita yang mengharukan bagaimana anggota TNI dan relawan dengan tegar berkorban demi warga, untuk tetap di lokasi ketika ancaman tiba dan tetap mendahulukan warga yang panik menyelamatkan dirinya, padahal mereka punya kesempatan untuk lari, tidak akan ada yang menyalahkan mereka, karena mereka juga manusia.

Foto-foto itu semakin terasa menyakitkan ketika terdengar kabar bahwa banyak media, khususnya media televisi yang memberitakan keadaan secara berlebihan, tanpa disertai data pasti dan tidak empati pada pengungsi yang sedang panik. Mereka (media di awal kejadian) hanya melaporkan situasi Yogyakarta, kepanikan dan korban, tanpa mengindahkan kondisi dan kebutuhan pengungsi yang tergeletak lemah di berbagai posko pengungsian. Padahal media ini adalah media paling cepat yang mampu mencapai kekuasaan di Jakarta. Sialnya, respon pemerintah terlihat lambat.

Melihat foto-foto itu bukan hanya membuat hati saya sakit, tetapi juga marah. Marah karena saya tidak bisa berbuat apa-apa, diam disini, di ibu kota, terpaku dengan rutinitas tak berarti, merasa tidak berguna sama sekali melihat saudara kita di Yogya seperti itu. Memberikan sumbangan berupa uang dan pakaian atau makanan, seakan tidak menghapuskan rasa sakit saya ketika melihat foto-foto itu.

Amarah itu semakin menjadi ketika saya melewati daerah Kemang. disitu banyak sekali mereka yang berdandan glamor, sexy dan wangi hanya untuk “bersosial” menghabiskan uangnya di club-club hanya sekedar mencari kesenangan, minuman dan khayalan. Di dalam hati saya mengumpat para cecunguk budak hedonisme itu, “kemana hati kalian ketika saudara kalian terkena panasnya abu vulkanik merapi?”. Mereka muda, mereka mampu, kenapa hanya sepeser uang yang mereka sumbangkan, mereka mampu lebih dari itu untuk membeli sebuah kenyamanan yang tidak pernah terbayangkan para pengungsi di yogya.

Saya marah, saya ingin ke yogya walau itu berbahaya dan beresiko hilangnya nyawa yang hanya satu. Saya ingin pergi ke yogya  menjadi relawan, jika tidak diizinkan biarkan lah saya kesana walau hanya mengambil secarik foto untuk disebarkan ke dunia, bagaimana menyakitkannya derita pengungsi merapi, dan menceritakan kebenaran tanpa melebihkannya.

Tapi saya lemah, walau hasrat dan hati ingin pergi, seakan ada kekuatan lain yang menghalangi, tapi saya tidak berdaya melawan,  sehingga sering kali air mata ini menetes setiap kali melihat foto-foto itu. saya cuma bisa berdoa, semoga saudara-saudara ku disana diberikan perlindungan, dan semua personel TN/Polri serta relawan yang bertugas diberikan kekuatan dan keselamatan ketika menjalankan tugasnya.

*Semua foto diatas saya ambil dari http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/mount_merapis_eruptions.html. Hak Cipta ada ada mereka.

Advertisements

November 9, 2010 Posted by | Curhatan Hati | Leave a comment

Pemerintah Minta Hak Cipta KFX, Yang bener aja…!!!

RI seeks copyright deal in KFX jet program,

Ada yang salah dengan judul itu, RI meminta Hak Cipta atas pesawat tempur KFX…??? YANG BENAR SAJA…!!! itulah kalimat yang pertama kali terlintas di benak saya. Yeah right, Hak Cipta pada sebuah rancangan pesawat tempur super canggih yang masih berada di angan-angan.

Entah apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Pemerintah Indonesia tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selalu saja Pemerintah salah menyebut jenis bidang perlindungan hukum ini. Dulu karya seni minta dipatenkan, sekarang sebuah rancangan pesawat tempur beserta teknologi di dalamnya diminta Hak Ciptanya. Kacau, kata itu mungkin ungkapan paling tepat bagi pemerintah dalam hal menginterpretasikan HKI. Dari situ jelas sudah, kalau pemerintah dan ahli hukumnya tidak mengerti tentang HKI sama sekali.

Kembali ke kasus Hak Cipta KFX yang diminta Pemerintah Indonesia. Pada masalah ini, HKI yang harusnya dikejar oleh Pemerintah adalah Hak Desain Industri dan Paten teknologi yang ada dalam pesawat tempur KFX.Desain Industri berkaitan dengan gambar cetak biru KFX, sedangkan Paten berkaitan dengan teknologi yang terkandung dalam pesawat tempur nantinya.

Cetak biru, walau pun terlihat seperti gambar tetapi perlindungan yang diberikan kepadanya adalah menggunakan Desain Industri, karena dari gambar tersebut adalah gambar rancang bangun yang dapat dituangkan dalam bentuk dua dimensi, tiga dimensi dan menjadi bentuk empat dimensi yang diterapkan dalam industri dan dapat dibuat secara massal.

Untuk paten, jelas. perlindungan ini diberikan kepada penemuan-penemuan teknologi terbaru, atau teknologi yag aan digunakan nantinya di pesawat tempur KFX.

Lalu mengapa Pemerintah justru meminta Hak Cipta, bukan dua perlindungan di atas. Hal ini terjadi bisa saja karena Pemerintah beranggapan bahwa gambar cetak biru KFX adalah gambar yang dilindungi dengan menggunakan perlindungan Hak Cipta. Memang tidak sepenuhnya salah, karena Desain Industri di Indonesia berkaitan dengan Hak Cipta, tidak seperti di AS yang berkaitan dengan Paten, sehingga banyak yang mengira gambar desain industri itu dilindungi Hak Cipta.

September 17, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Dan Industri Pertahanan Indonesia Mulai Diakui

Hmmm…sudah lama saya tidak menulis disini, bukan karena tidak ingin, tetapi lebih karena kesibukan pekerjaan dan kuliah yang super padat. Nah sekarang kita mulai lagi.

Beberapa bulan belakangan, adalah momen-momen menegangkan bagi saya dan Indonesia, khususnya industri pertahanan nasional yang sudah lama mati suri. Ya, setidaknya itu yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.

Masih jelas teringat, beberapa minggu lau akhirnya Pemerintah menandatangani Memory of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Korea Selatan, untuk melakukan kerjasama dalam mengembangkan pesawat tempur Korea Selatan yang sudah lama terbengkalai, Korean Fighter X (KFX).

Proses penandatangan MoU dua negara ini dilakukan setelah Pemerintah Korea Selatan melakukan lobi cukup lama pada Pemerintah Indonesia, dan tentunya pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari anggota DPR yang mempertanyakan urgensi kerjasama ini, tapi toh akhirnya kerjasama itu disahkan.

Walau hanya mengakuisisi 20% pembiayaan pengembangan pesawat tempur ini, hal ini membuktikan bahwa negara-negara asing sebenarnya sudah memperhatikan kemampuan industri pertahanan Indonesia. Apalagi khusus untuk industri pesawat terbang, Indonesia sudah terkenal dengan N250 dan CN235nya yang banyak dipesan berbagai negara karena dianggap sebagai mini Hercules.

Ajakan untuk melakukan kerjasama pengembangan pesawat tempur juga dilayangkan oleh Pakistan. Negara seteru India ini langsung melayangkan proposal kerjasama pembuatan pesawat JF-17 yang sebenarnya adalah pesawat yang dikembangkan bersama dengan Cina, tidak lama setelah Pemerintah menyetujui melakukan pembiayaan program KFX Korea Selatan.

Sangatlah tepat jika kerjasama ini datang disaat Indonesia mulai mencanangkan untuk menjadi negara mandiri dalam hal pengadaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bagi TNI . Apalagi TNI AU saat ini sedang mengalami masalah dengan jumlah pesawat tempurnya.

Tinggal kini menunggu langkah pemerintah selanjutnya, apakah hanya akan melakukan pembiayaan program KFX saja dan mendapat jatah offset dari Korea Selatan untuk membuat KFX pesanan Indonesia, atau akan  mengembangkan pesawat itu sendiri kelak. Karena diperkirakan, KFX baru akan terbang perdana 2020-an, itu artinya pemerintah harus mulai menyiapkan infrastruktur penunjang.

September 17, 2010 Posted by | Militer | 1 Comment

Hercy Kembali Menghujam Bumi Pertiwi

Pagi ini seperti pagi di hari biasanya, cuaca terlihat cerah dengan udaranya yang masih segar, bebas dari polusi asap knalpot kendaraan bermotor. Tetapi ketika melihat televisi dan membuka internet, ada yang beda, berbagai media tidak seperti biasanya memberitakan informasi tdai malam, tetapi terfokus pada satu berita, yaitu Hercules TNI AU jatuh lagi di Magetan, Jawa Timur.

Ini artinya sudah tiga insiden yang melibatkan pesawat TNI AU dalam dua bulan terakhir. Pertama insiden jatuhnya pesawat Fokker F27 di Lanud Hussein Sastranegara, Bandung dan memakan korban belasan personel Paskhas AU.

Kedua insiden lepasnya roda pendarat pesawat C-130 Hercules TNI AU di Papua, tetapi insiden ini tidak memakan korban jiwa, hanya kerusakan pada pesawat.

Dan kali ini Hercy kembali kembali rontok dan memakan korban kurang leboih 98 orang, baik dari pihak TNI maupun sipil tertabrak badan pesawat.

Semua pihak bertanya, mengapa pesawat TNI selalu jatuh? jawabannya mudah tapi susah untuk diungkap, karena terlalu bersifat politis dan akan menguak semua kebobrokan bangsa ini, khususnya perhatian pemerintah kepada TNI.

Berbagai pihak menganggap banyaknya kejadian jatuhnya pesawat TNI dikarenakan TNI kekurangan anggaran untuk membeli pesawat baru, sehingga masih mengandalkan pesawat-pesawat tua yang sebenarnya sudah harus di grounded (pensiun). Namun pihak pemerintah selalu menyangkal hal tersebut dengan mengatakan bahwa anggaran TNI cukup dan semua pesawat TNI masih laik terbang, kini apa buktinya? Pesawat kita rontok dimana-mana. Yang disalahkan hanya faktor alam seperti cuaca atau huma error tanpa melihat fakta umur pesawat.

Kenyataannya lebih dari setengah peralatan TNI, baik AD, AU dan AL adalah peralatan yang berusia lebih dari 40 tahun dan harus sudah diganti oleh peralatan baru.

Khusus untuk pesawat C-130 Hercules, TNI sudah mengoperasikan pesawat jenis ini semenjak tahun 60-an untuk varian A dan B, artinya sudah lebih dari 45 tahun pesawat ini mengabdi pada bangsa ini.

Padahal di negara asalnya, AS sana, varian A, B dan H yang dimiliki oleh TNI sudah tidak dipergunakan lagi, diganti dengan varian J. Tetap pemerintah masih berkelit dengan alasan, suku cadangnya masih dijual dan masih bisa diretrofit (upgrade teknologi) ke tipe terbaru, seperti yang dilakukan pada empat C-130 A dan B milik TNI AU yang dikirim ke Singapura untuk peremajaan.

Ironisnya, ketika banyak pemerhati pertahanan mengatakan TNI sudah harus mendapatkan peralatan baru untuk mengganti peralatan lamanya, Menhan Yuono Sudarsono baru akan berencana untuk membeli empat Hercules baru dari AS, itupun dengan catatan, kalau AS mau memberikan harga murah.

Timbul pertanyaan, mengapa baru sekarang? mengapa hanya empat? dan mengapa harus dari AS?

Mungkin pemerintah baru terbuka mata dan telinganya, kalau TNI butuh peralatan baru. Tapi mengapa hanya empat, padahal TNI butuh lebih dari itu. Pemerintah berkilah tidak punya uang. Kalau tidak punya uang, kenapa tidak beli yang lebih murah dari negara lain atau membeli produk dalam negeri, CN235 yang harganya jauh lebih murah.

Dan kenapa harus dari AS? Apakah pemerintah tidak ingat sama sekali embargo yang dilakukan oleh negeri adikuasa itu. Mengapa kita tidak membeli dari negara lain seperti Rusia yang menawarkan pesawat angkut IL-76 yang lebih murah dan diberi kesempatan untuk mengembangkan pesawat itu di dalam negeri.

Pemerintah dan DPR pura-pura buta dan tuli jika ditanya masalah seperti itu. Mereka hanya bicara, memberikan kritik pedas, tapi lupa untuk memberikan tindakan nyata.

Anggota dewan berteriak berikan TNI peralatan terbaik, tapi mereka selalu memojokan TNI dalam situasi yang tidak menyenangkan, bahkan untuk membuat sebuah Buku Putih Pertahanan 2008 saja memerlukan waktu yang sangat lama, sehingga timbul pertanyaan, APAKAH ANGGOTA DEWAN MENGERTI KONSEP DAN GRAND STRATEGI PERTAHANAN NASIONAL?

Pemerintah juga harusnya bertanggungjawab, mereka seakan-akan melupakan TNI dengan memotong anggaran pertahanan 2009, padahal anggaran yang diajukan adalah anggaran minimal yang harus dipenuhi. kembali timbul pertanyaan, APAKAH PEMERINTAH MENGERTI MASALAH PERTAHANAN DAN MEMILIKI GRAND STRATEGI PERTAHANAN NASIONAL?

Jika pemerintah dan DPR tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut, apakah mereka pantas menduduki kursi kekuasaan? Tetapi, jika mereka tahu jawaban dari pertanyaan tersebut tetapi tidak menjalankannya, maka mereka telah menghianati bangsa ini.

Para prajurit TNI yang gugur baik di medan perang maupun karena kecelakaan, telah disumpah untuk selalu setia pada negara, menjaga jutuhan NKRI walau dalam kondisi sesulit apapun. Dalam kesahajaan seperti keadaan sekarang ini, mereka terus mencoba bertahan dengan keadaan seadanya, berusaha menjaga tanggung jawab yang dibebankan pada pundak mereka.

Personel TNI dilatih untuk mati dalam membela kedaulatan bangsa ini dari ancaman yang mengancam keutuhan NKRI, bukan dilatih untuk mati konyol karena melaksanakan “misi bunuh diri” akibat kecelakaan pesawat yang sebenarnya bisa dihindari.

Pemerintah seharusnya malu memperlakukan para penjaga bangsa ini dengan perlakuan yang serba minimalis.

Semoga personel TNI dan orang-orang yang menjadi korban jatuhnya pesawat Hercules di Magetan di terima di sisi-Nya.

Sumpahmu untuk selalu menjaga bangsa ini akan terus tersimpan di dalam hati setiap prajurit dan orang-orang yang peduli akan nasib bangsa ini.

Selamat Jalan Prajurit….

May 21, 2009 Posted by | Militer | Leave a comment

Persamaan Gender dan Kewajiban Seorang Ibu

Jepara, 21 April 1879. Seorang bayi perempuan lahir dengan tangis ke dunia. Bayi itu bernama Raden Ajeng Kartini (RA. Kartini). Kini tanggal itu menjadi hari diperingati sebagai hari Kartini, hari kebangkitan wanita Indonesia.

Siapa tak mengenal dirinya, seorang sosok wanita pejuang yang mencoba membebaskan wanita Indonesia dari kungkungan adat feodalisme yang tak memihak pada kaumnya.

Walau berasal dari kaum priyayi, tidak membuatnya lepas dari adat istiadat yang merugikan kaum wanita dalam menempuh kesempatan mengecap pendidikan pada saat itu.

Kini setelah 130 tahun dari peristiwa kelahiran sang bayi, kebebasan untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan, mendapatkan pekerjaan dan menjadi pemimpin telah didapat. Peluang menjadi seorang wanita mandiri terbuka lebar seluasnya.

Namun ketika kesempatan itu telah didapatkan, mengapa masih ada persoalan buang anak, pembunuhan anak, aborsi, dan anak penjualan anak oleh sang ibu dan anak kurang mendapat perhatian dari sang ibu.

Ketika kaum feminis sibuk berteriak tentang persamaan hak di segala bidang bagi wanita tanpa melihat kodrat wanita sesungguhnya, kasus seperti pembuangan bayi oleh sang ibu, aborsi dan anak dijual oleh ibunya berserakan dimana-mana, bahkan angkanya mencapai jutaan, jumlah yang fantastis.

Misalnya saja kasus pembuangan bayi oleh sang ibu. Untuk Februari 2009 saja, tercatat ada tujuh kasus pembuangan bayi oleh sang ibu ketika bayi masih merah alias baru lahir. Diduga, bayi-bayi itu adalah hasil hubungan gelap dan keberadaannya tidak diinginkan oleh orang tuannya.

Lalu masih ada kasus aborsi. Menurut catatan statistik aborsi 2008 yang dibuat oleh Bidang Keluarga Berencana Nasional (BKBN), setidaknya ada sekitar 2,6 juta kasus aborsi yang dilakukan oleh wanita Indonesia. Artinya ada 2,6 juta nyawa tak berdosa yang melayang hanya dari aborsi saja.

Menurut Agus Wilopo, Ketua Minat Kesehatan Ibu dan Anak/Reproduksi Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), dari 2,6 juta aborsi yang dilakukan, 700 ribu di antaranya dilakukan oleh wanita berumur di bawah 20 tahun. Ia juga berpendapat, 11, 13 persen dari total kasus aborsi di Indonesia dilakukan karena kehamilan yang tak diinginkan.

Walau angka 2,6 juta itu bukanlah angka pasti, karena kasus aborsi banyak yang tidak dilaporkan, namun itu sudah cukup untuk menggambarkan banyaknya kasus aborsi yang dilakukan para manusia tak bertanggung jawab.

Belum lagi kasus anak yang dijual oleh ibunya, baik dijual kepada orang lain yang memang menginginkan anak atau dijual sebagai pelacur. Kebanyakan motif dari para pelaku penjualan anak, adalah karena himpitan ekonomi, sehingga mereka melihat hanya dengan jalan seperti itulah, mereka dapa mengatasi masalah tersebut.

Ditambah lagi dengan banyaknya permasalahan kurang perhatian orang tua, terutama ibu kepada anak-anaknya karena sang ibu sibuk dengan kegiatannya sebagai wanita karir, sehingga anak-anak dirumah di didik oleh pembantu dan baby sitter, dan ketika dewasa, mereka menjadi bebas tanpa perhatian dari orang tua dan keluarga pun terbengkalai.

Permasalahan di atas, hanyalah sebagian permasalahan yang sedang dihadapi oleh wanita Indonesia. Masih banyak kasus yang melibatkan anak dan wanita, seperti ibu yang membunuh anaknya sendiri, seperti kasus ibu yang membunuh anaknya di Bandung akibat takut tak bisa memberi nafkah, atau ibu yang menjadi germo bagi anak-anak di bawah umur.

Berbagai permasalahan yang disebutkan sebelumnya, menggambarkan bagaimana masih banyak wanita yang tak bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Jika ia tidak bisa mempertangungjawabkan perbuatannya sendiri, bagaimana ia bertanggungjawab pada keluarganya nanti?

Kemana rasa kasih sayang seorang ibu yang nota bene adalah wanita? Padahal, ada pepatah, setega-teganya seorang ibu, ia tidak akan mengorbankan anaknya.

Ibu lah yang memberikan pelajaran tentang kelembutan hati bagi anaknya walau itu hanya dari masakan dan belaiannya, karena itu, kasih sayang seorang ibu berbeda dengan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, dan hal itu tidak pernah tergantikan.

Ketika banyak kasus yang melibatkan wanita dan anak menjadi korbannya, apakah pantas para kaum feminis berteriak menuntut persamaan hak bagi wanita di segala bidang?

Jangan hanya melihat dari sudut persamaan hak saja, hingga lupa ada yang namanya kodrat yang tidak bisa diingkari oleh manusia, bahwa wanita adalah wanita bukan pria, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang berbeda.

Hak memang patut diperjuangkan, tetapi ketika kewajiban sudah terlaksana dengan baik.

Menempuh pendidikan setinggi-tingginya, meniti karir dan menjadi wanita mandiri adalah hak wanita. Namun jangan dilupakan masalah kodrat. Karena secara esensi, pria dan wanita memang berbeda. Berbeda dalam hal awal penciptaan, berbeda secara fisik, berbeda dalam pola berpikir dan berbeda fungsi dalam keluarga.

Menuntut persamaan hak layaknya seorang pria, tanpa perbedaan setitik pun dan menjadi dominan, apakah bisa? Kartini pun sadar akan hal tersebut, ini terlihat ketika ia menikah dan menyadari ada kelebihan bagi wanita ketika berkeluarga (menikah).

Tidak ada yang lebih dominan di antara pria dan wanita, keduanya saling melengkapi, karena satu sama lain saling membutuhkan untuk mengisi ruang kosong di diri masing-masing.

Wanita memiliki kenikmatan yang tak ada dalam diri  pria manapun di muka bumi ini, mengandung. Merasakan ada satu mahluk yang tumbuh di dalam tubuh dan menjadlin ikatan emosi dengan sang bayi semenjak janin hingga ujung waktu.

Jadi mengapa harus merasa kurang dan menuntut hal yang sama persis dengan pria ketika diciptakan sebagai wanita, karena menjadi wanita bukanlah sebuah kekurangan, tetapi sebuah anugerah luar biasa yang tidak bisa dirasakan oleh kaum pria.

Selamat Hari Kartini wanita-wanita Indonesia, jadilah wanita mandiri tanpa melupakan kewajiban mu sebagai wanita seutuhnya.


April 21, 2009 Posted by | Uncategorized | 8 Comments

Doel dan Realitas Kehidupan Kita

Ah…. Rasanya sudah lama tidak menulis di blog ini. Penyebabnya bukan karena malas, tetapi karena beberapa bulan belakangan begitu banyak cobaan yang menimpa, sehingga sukar untuk menumbuhkan semangat menulis, walau pun banyak ide untuk ditulis di kepala ini.

Beberapa minggu ini, kebiasaan saya sedikit berubah. Kalau dahulu, setiap pagi selalu menghidupkan radio dan mendengarkan musik serta berita-berita yang dibacakan oleh penyiar. Kali ini hal itu terganti dengan menonton berita pagi di tv, sekaligus sinetron pagi.

Ya, sinetron, tapi bukan sinetron yang banyak ditayangkan oleh berbagai tv swasta kita sekarang yang tidak mempunyai alur cerita tidak jelas, hedonisme, tidak bermutu dan tidak mendidik. Melainkan sebuah sinetron lawas yang terkenal pada era 90-an, “Si Doel Anak Sekolahan” yang tayang disebuah stasiun tv swasta tertua di Indonesia.

Kenapa harus menonton sinetron lawas itu, karena kalau melihat sinetron itu, saya selalu teringat dengan masa- kecil dulu di desa, masa-masa kuliah dan masa-masa pasca kelulusan dan mencari kerja.

Selain itu, “Si Doel” menjadi obat kerinduan saya terhadap keinginan melihat sebuah tayangan televisi yang merakyat, tidak dibuat-dibuat, sekaligus mendidik, tidak seperti yang disuguhi sekarang ini.

Melihat “Si Doel” juga membuat saya teringat bagaimana realita sosial kita sudah jauh dari budaya timur yang menjunjung kesopanan serta ada istiadat adi luhung, tergantikan dengan budaya barat dan hedonisme yang menjangkiti generasi muda bangsa ini.

“Si Doel” menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan karena pembangunan namun tetap berusaha untuk maju dengan usahanya sendiri.

Bagaimana si Doel mencari kerja tanpa lelah tanpa menggunakan jalur-jalur “khusus” seperti yang digunakan banyak anak-anak sekarang, Nyak yang tetap setia pada Babe yang telah meninggal, tidak seperti kebanyakan “wanita paruh baya” sekarang yang gemar akan daun muda.

Masih ada Sarah yang tidak menilai seseorang karena harta, tetapi lebih kepada ketulusan dan kesederhanaan kehidupan keluarga Sabeni yang apa adanya dan menjadi diri sendiri.

Tanpa kita sadari, kehidupan keluarga si Doel adalah sebuah cerminan hidup yang hampir musnah di masyarakat bangsa ini, nilai-nilai itu telah terlindas roda zaman yang tak peduli berputar.

Sifat sederhana telah digantikan dengan sikap hedonisme yang mengutamakan benda berkilau, dan ketulusan telah terganti dengan materialisme.

Tetapi entah mengapa, banyak di antara kita yang justru bangga akan sikap itu, dan tak lagi peduli dengan orang di dekatnya yang membutuhkan uluran tangan.

Realita kehidupan kita memperlihatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si miskin dan si kaya, tanpa ada jembatan yang dapat menghubungkan dua sisi yang ibarat langit dan bumi.

Yah… itulah hidup, selalu penuh warna dan misteri yang tak terungkap oleh dangkalnya pemikiran manusia yang angkuh.

April 20, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Indo Defense & Aerospace 2008, Bukti Eksistensi Industri Pertahanan Nasional Pada Dunia

Mungkin sedikit terlambat jika saya baru membahas salah satu pameran bergengsi di tanah air tercinta saat ini, karena pameran Indo Defense & Aerospace 2008 sudah berakhir beberapa hari lalu. Namun, sisa-sisa wangi peninggalannya masih tercium sampai saat ini.

 

Pada awalnya saya sendiri tidak menyangka bahwa pameran persenjataan kelas dunia ini akan dilaksanakan lagi, karena terakhir kali ada pameran seperti ini pada 2006 lalu. Mengingat pengalaman Indonesia Aerospace 1996 tidak lagi diadakan pada 2006 (diganti dengan Indo Defense 2006).

 

Sedikit berbeda dengan pameran sebelumnya, pameran kali ini tidak hanya memamerkan produk persenjataan dalam negeri, tetapi digabung dengan Indonesia Aerospace, walaupun bagian ini tidak terlalu besar.

 

Pameran ini diikuti oleh berbagai kalangan dari dalam maupun luar negeri, baik perwakilan negara maupun swasta.

 

Peserta dari dalam negeri, terdiri dari semua BUMN strategis yang bergerak di bidang pertahanan, juga oleh lembaga pendukungnya seperti BPPT dan LAPAN, tidak lupa beberapa perusahaan swasta nasional dan universitas.

 

Sedangkan peserta dari luar negeri, setidaknya ada beberapa negara seperti negara-negara Eropa (Rusia, Jerman, Perancis, Polandia, dll), Asia (Korea Selatan dan India) serta negara-negara kelompok ASEAN (Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura).

 

Bahkan AS dan Inggris ikut serta dalam pameran itu, walaupun Inggris hanya di wakili oleh perusahaan distributor dan AS hanya mengirim beberapa perusahaan penyediaan persenjataan ringan.

 

Selama pameran tersebut, banyak produk militer dalam negeri yang sudah dapat digunakan ataupun yang masih prototype, mereka bersaing dengan berbagai produk militer dari luar negeri.

 

Sungguh membanggakan, kini industri pertahanan Indonesia sidah mula untuk memproduksi beberapa kendaraan militer berat, seperti beberapa negara yang sudah mapan teknologinya.

 

Di pameran tersebut, beberapa produk terbaru industri pertahanan nasional yang sudah tahap produksi seperti panser buatan PT. Pindad melakukan uji coba untuk kalangan umum, Dislitbang TNI AL dan TNI AD malah membawa hovercraft terbarunya, sayang hovercraft dan kendaraan lapis baja milik PT. DI tidak ikut, tentunya akan lebih menarik.

 

Hampir semua kendaraan militer buatan dalam negeri yang sudah memasuki tahap produksi, dipamerkan di luar hall pameran. Bahkan saya dan fotografer sempat merasakan guncangan panser beroda enam terbaru buatan Pindad.

 

Di dalam hall pameran yang memakai tenda berpendingin ruangan, masih banyak lagi peralatan militer dalam dan luar negeri yang dipamerkan, bahkan banyak peralatan militer dalam negeri yang masih bersifat uji coba sudah dipajang, dan banyak yang akan memasuki tahap uji coba dan produksi.

 

Kejutan tidak sampai disitu saja, selain BUMNIS dan pihak TNI, kalangan swasta nasional juga tidak ikut ketingalan untuk memamerkan produk terbarunya.

 

Ada perusahaan swasta nasional yang saat ini sedang merancang sebuah radar asli seratus persen buatan dalam negeri dan kini sedang diuji coba oleh TNI AL untuk pengamana wilayah perairan RI.

 

Tujuan mereka satu, agar pemerintah dan TNI serta kalangan lain tidak lagi harus membeli radar dari luar negeri yang mahal harganya.

 

Selain itu masih ada perusahaan swasta yang bermitra dengan TNI AL untuk mengembangkan hovercraft. Kerjasama mereka sudah memasuki tahapan uji coba dan persiapan untuk produksi.

 

PT. Pindad dan PT. DI juga tidak mau ketinggalan dalam memberikan kejutan. Stand kedua BUMNis ini paling banyak dikunjungi oleh pengunjung di bagian stand khusus BUMN strategis.

 

Perusahaan penghasil senapan ini memamerkan semua senjata buatannya, mulai dari pistol hingga panser terbarunya.

 

PT. DI lebih heboh lagi, setelah membuat gempar pada peringatan HUT PASKHAS AU dengan membawa kendaraan tempur terbarunya beberapa waktu lalu. Di acara ini PT. DI membawa poster kendaraan militer terbarunya, yakni hovercraft raksasa.

 

Tentu saja hal tersebut menarik perhatian khalayak umum, karena PT. DI bukanlah penghasil hovercraft yang bisa berjalan di atas air, melainkan pesawat terbang.

 

Saya tidak merasa aneh, karena jauh sebelumnya saya sudah mengetahui hal tersebut langsung dari pabriknya, bahkan saya ke acara Indo Defense memang untuk wawancara dengan perancangnya. Tapi bukan kepala perancangnya yang saya wawancarai, malah Dirutnya, Budi Santoso yang saya wawancarai, ini sih namanya rezeki.

 

Sebelum wawancara dengan Pak Budi Santoso, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang delegasi asing di pameran tersebut, beberapa di antaranya adalah Mr. Pillai dari India, humas delegasi Brunei, Test Drivernya Renault dan beberapa staf Kedubes Polandia.

 

Tetapi entah kenapa, saya kok merasa sedikit risih ketika mendekati stand-stand Malaysia dan Singapura. Mungkin saya masih sebal dengan dua negara ini, karena perlakuan mereka terhadap Indonesia beberapa waktu lalu.

 

Rata-rata dari mereka berpendapat, industri pertahanan Indonesia sudah maju pesat dibandingkan dengan pameran sebelumnya. Mereka juga bangga bisa ikut dalam pameran itu serta berharap bisa ada kerjasama dengan Pemerintah Indonesia.

 

Mereka kagum dengan pencapaian Indonesia yang sudah mampu memproduksi banyak peralatan militer. Menurut mereka juga, produk-produk militer Indonesia memiliki kualitas setara dengan produk negara lain.

 

Mendengar itu, tentunya membuat bangga. Hanya saja sekali terlintas dipikiran saya, apakah pemerintah dan rakyat bangsa ini sadar dengan potensi bangsanya?

 

Ketika wawancara dengan Budi Santoso, beliau berpendapat pemerintah dan bangsa ini kurang mempercayai produk bangsa sendiri, padahal banyak negara lain yang mengakui kualitas produk militer Indonesia.

 

Memang sangat disayangkan, ketika dunia sedang merasakan krisis global dan harga-harga melambung tinggi, seharusnya bangsa ini lebih mempercayai produk dalam negeri yang harganya murah dan berkualitas baik, bukannya membeli dari luar yang banyak unsur politiknya.

 

Kapan ya Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri?

December 1, 2008 Posted by | Militer | | Leave a comment

Para Penggadai Negara

Indonesia adalah negara kaya yang dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa, tetapi negara besar ini terpuruk pada lubang krisis yang entah sampai kapan akan berakhir.

Mungkin salah satu penyebab dari keterpurukan negara kita tercinta ini disebabkan oleh para pejabat pemerintah kita yang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Sudah menjadi rahasia umum jika para pejabat kita tidak pernah menjalankan tugasnya dengan baik.

Bagaimana mereka menjalankan tugasnya dengan baik, kalau mereka sendiri tidak pernah tahu apa tugas mereka, karena pendidikan mereka tidak sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Selain itu, politik kita yang kotor selalu membuat para pejabat hanya memikirkan kepentingan individu atau kelompoknya saja, sehingga rakyat yang seharusnya mereka bela tidak pernah tersentuh, bahkan mereka tidak akan bertindak jika program yang dijalankan tidak ada nilai uangnya.

Ya, uang menjadi tujuan utama para pejabat kita yang kebanyakan melakukan korupsi. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan sejumlah uang, termasuk jika harus menggadaikan kedaulatan negara ini.

Mereka tidak malu untuk menjual aset negara yang berharga kepada pihak luar, ataupun swasta tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan pada rakyat.

Selain itu, pejabat kita tidak sungkan lagi untuk menjual sumber daya alam bangsa ini, seperti migas dan bahan tambang kepada asing, tanpa memperhitungkan untung-rugi, yang penting mereka mendapatkan keuntungan dari kebijakan tersebut.

Informasi terbaru, ada salah satu pejabat negara tinggi (sangat tinggi)bangsa ini telah memberikan izin penambangan kepada sebuah negara di salah satu daerah Indonesia.

Yang menjengkelkan, daerah tambang tersebut dijaga oleh sekelompok pasukan angkatan bersenjata yang berasal dari negara lain, bukan oleh pasukan pengaman Indonesia.

Pengamanan tentara asing itu adalah menjaga sebuah wilayah tambang emas yang berada di atas tanah yang berabad-abad lalu berdiri sebuah kerajaan.

Jika disana hanya ada emas, tetapi mengapa harus dijaga oleh tentara asing, bukannya kepolisian Indonesia atau TNI? pastilah ada yang lebih berharga dari emas disana, siapa yang tahu?

Informasi ini berasal dari teman yang akan berangkat ke daerah tersebut.

Menurutnya, ekspedisi ini akan sangat berbahaya. Karena sebelum melakukan perjalanan, ia berpesan, jika ia mati karena ekspedisi ini, ia ingin jasadnya dimakamkan di kota kelahirannya.

Mungkin ia sudah merasa jika ekspedisi ini berbahaya. Karena ketika akan berangkat. Tiket yang telah dipesan, dinyatakan tidak berlaku alias kadaluawarsa.

Padahal tiket tersebut sudah ditangan dan di booking jauh hari sebelum hari keberangkatan.

Jika informasi itu benar adanya, maka akan sangat ironis. Karena ternyata di wilayahnya sendiri, Indonesia tidak berdaulat. Wilayah teritorial negeri ini di jaga oleh angkatan bersenjata negara lain dan tidak memperkenankan warga negara Indonesia untuk memasuki pekarangannya sendiri.

October 15, 2008 Posted by | Konspirasi | | 2 Comments

PT. Dirgantara Indonesia, Riwayatmu Kini

Tidak terasa PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) sudah berumur lebih dari tiga dasawarsa, tepatnya sudah berumur 32 tahun perusahaan pembuat pesawat dalam negeri ini berdiri di tanah Indonesia.

Perjalanan panjang telah ditempuh oleh satu-satunya perusahaan pembuat pesawat terbang di Indonesia dan di kawasan ASEAN ini.

Sebagai bagian dari industri pertahanan dalamnegeri, sejumlah prestasi telah dicetak oleh perusahaan yang berada di Bandung ini. Mulai dari sebagai perusahaan manufaktur perusahaan tercanggih yang berasal dari negara berkembang hingga pecipta pesawat turboprop pertama yang menggunakan sistem fly by wire, N250.

Namun berbagai prestasi kelas dunia yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah dunia internasional, khususnya di dunia kedirgantaraan internasional hilang begitu saja, setelah krisis ekonomi melanda bangsa ini.

PT. DI (IPTN kala itu) terkena imbas, hingga sebagai perusahaan pernah dinyatakan bangkrut dan pailit oleh pengadilan, namun kemudian keputusan itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung.

Untuk menghidupi perusahaan yang sudah berada di ujung tanduk, manajemen serta karyawan yang tersisa melakukan segala upaya untuk menyelamatkan perusahaan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini.

Mulai dari membuat kendaraan yang bisa digunakan di jalan sempit (gangcar), menjual pesawat dinas  perusahaan yang biasa digunakan oleh B.J. Habibie, membuat antena parabola, hingga membuat  cetakan panci untuk dipasarkan di dalam negeri.

Ketika saya kesana untuk wawancara dengan bagian Humas untuk keperluan artikel. Kawasan PT. DI begitu sepi, tidak seperti ketika masa jayanya pada tahun 1980-1990an. Menurut Humas PT. DI, sekarang ini PT. DI sudah mulai bangkit sedikit demi sedikit. Dengan tekad menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan kelas dunia.

Setelah berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia pada 2000 lalu. Dengan hanya bermodal investasi yang pernah ditanamkan pemerintah dahulu dan jumlah karyawan yang hanya tinggal 4.000 orang. Perusahaan mulai membenahi dirinya dan memperoleh keuntungan pertama kalinya, kurang lebih sebesar Rp. 11 miliar pada 2001.

Setelah delapan tahun berganti nama menjadi PT. DI, akhirnya perusahaan ini terus berkembang sedikit demi sedikit. Berbagai produk PT. DI, mulai dari pesawat terbang komersial hingga peralatan militer, mulai dipercaya oleh berbagai negara.

Produknya pun bertambah, tidak hanya pesawat. PT. DI sudah mampu membuat roket, torpedo, panser ringan, hingga hovercraft dan radar.Beberapa proyek juga kini tengah dijalani oleh PT. DI sebagai perusahaan pembuat pesawat terbang.

Memang, program N250 dan pengembangan N2130 belum bisa dilanjutkan, karena tidak tersedianya dana yang cukup untuk kedua progema pesawat nasional tersebut. Namun, PT. DI tidakberputus asa untuk mengembangkan sebuah pesawat nasional baru.

Belakangan ini, PT. DI tanpa diketahui banyak pihak sedang melakukan penelitian dan pengembangan sebuah pesawat baru, yakni pesawat N219.

N219 diprediksikan akan dibangun untuk keperluan penerbangan perintis dan menggantikan pesawat perintis yang telah berumur tua yang ada di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur yang mengandalkan penerbangan perintis sebagai transportasinya.

Pesawat turboprop masih dalam tahap preliminary design ini, rencananya akan dapat lepas landas dan mendarat di bandara yang hanya memiliki panjang landasan 800 meter. Itu artinya banyak landasan di kawasan Indonesia timur dapat dicapai.

Dengan adanya pesawat ini, dimasa mendatang diharpakan transportasi Indonesia timur dapat semakin lancar dan perekonomiannya pun berkembang pesat. Bisa dikatakan, proyek ini akan menjadi proyek PT. DI yang paling prestisius di masa kini.

Kita berharap, dengan adanya proyek N219, PT. DI akan memperoleh lembali masa-masa jayanya seperti dahulu ketika dipmpin B.J. Habibie. Tentunya harus dengan adanya dukungan dari pemerintah, yang telah berjanji akan mulai mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, agar tidak bergantung pada produk militer dari luar negeri.

September 1, 2008 Posted by | Militer | | 8 Comments

Marhaban Ya Ramadhan

Tidak terasa sudah satu tahun kita lewati dari bulan ramadhan sebelumnya. Hanya dalam hitungan jam, kita akan berjumpa lagi dengan bulan ramadhan 1429 Hijriyah, bulan yang suci dan penuh rahmat. Dimana setan dan godaan, dibelenggu dalam penjara neraka selama satu bulan penuh.

Dibulan ini, semua umat manusia, khususnya umat muslim dunia akan menahan semua nafsunya, baik itu lapar, haus dan emosi yang ada di hati, seraya terus berdoa kepada sang maha pencipta Allah SWT.

Harapan selalu ada dalam diri manusia, dengan datangnya bulan yang suci ini, kita semua berharap akan menjadi manusia yang lebih baik setelahnya. Sebuah manusia yang terhindar dari godaan-godaan setan yang menjerat manusia dengan kenikmatan sesaat.

Bagi bangsa Indonesia, kita berharap dengan datangnya bulan ramadhan. Penduduk bangsa ini akan mengitrospeksi ke dalam diri masing-masing. Memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat dengan berpuasa sebulan penuh. Karena hakikat puasa adalah menjauhkan diri dari semua hawa nafsu setan.

Pada akhirnya, atas perbuatan yang terjadi serta kata-kata kasar yang telah terucap.  Mari kita sambut bulan ramadhan yang penuh berkah ini dengan mengucap maaf, minal adizin wal faidzin.

Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1429 Hijriah

August 31, 2008 Posted by | Nafsu | | Leave a comment